INTEGRITAS KOMODITI YANG NYARIS PUNAH?  

Posted by rsagala in


Pendahluan

Saudara-saudara yang kekasih, tulisan saya kali ini diangkat dari Amsal 10:9 “Siapa ‘bersih kelakuannya,’ aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui.” Di dalam bahasa Inggrisnya, ayat ini berbunyi: “The man of “integrity walks securely, but he who takes crooked path will be found out.”

Pada waktu saya mengikuti kelas “Church Leadership and Administration” di AIIAS, Philippines dibawah bimbingan DR. G.T. Ng, saat mempelajari satu bab dari buku “The Making of A Leader” oleh J. Robert Clinton, salah seorang penulis buku mengenai kepemimpinan dengan judul : Character: Foundational for Leadership, kami diberi tugas untuk menginterview seorang pemimpin, untuk mencari tahu bagaimana pandangan mereka mengenai kepemimpinan.

Saya berkesempatan untuk menginterview salah seorang dekan dari sebuah Perguruan Tinggi Khatolik, saya menanyakan bagaimana pandangannya mengenai kepemimpinan. Dalam salah satu pembicaraan saya tanyakan kepadanya dari sekian banyak faktor-faktor yang membangun seorang pemimpin yang baik, manakah yang lebih penting. Kemudian tanpa membuang-buang waktu dia menjawab: “INTEGRITY” Lanjutnya “Without integrity, someone cannot be a good leader!”

Apa Yang Dimaksud dengan Integritas:

Kata “integrity” yang telah di-Indonesikan menjadi “integritas,” dalam bahasa Alkitab diterjemahkan sebagai “bersih kelakuan,” atau “berkelakuan bersih..” Tidak heran mengapa banyak para ahli menganggap, bahwa dari sekian banyak faktor yang membuat seorang pemimpin itu baik adalah “integritas” atau “kelakuan yang bersih.”

Kamus menjelaskan integritas sebagai “keadaan menjadi lengkap, merupakan kesatuan.” Kalau saya punya integritas maka kata-kata dan perbuatan saya akan sesuai. Saya adalah diri saya, tidak perduli dimana saya atau bersama siapa saya, yang pasti “saya adalah saya”.

Menurut Merriam Webster, “intergrity is uncompromising adherence to a code of moral, artistic, or other values that reveals itself in sincerity, honesty, and condor and avoids deception or articiality.” Yang lain mengatakan bahwa Integritas itu adalah “jantung dari tabiat,” atau “inti dari tabiat.”

Sangat disayangkan zaman ini integritas sudah merupakan komoditi yang mulai lenyap baik di tengah-tengah keluarga, pekerjaan dan masyarakat, bahkan integritas juga sudah langka ditemukan di gereja. Sadar atau tidak sekarang ini standard pribadi sedang runtuh. Sebagai seorang Kristen, adalah merupakan tanggung jawab kita untuk berusaha membangkitkan dan menemukan kembali integritas di dalam diri kita masing-masing. Orang yang memiliki integritas sangat dibutuhkan saat ini, karena seorang yang memiliki integritas tidak akan membagi loyalitas dan tidak pula menjadi orang yang berpura-pura atau munafik. Orang yang punya integritas adalah orang yang “utuh” Orang yang punya integritas, tidak punya satu hal pun untuk disembunyikan dan tidak punya apapun untuk untuk ditakuti. Kehidupan mereka seperti buku yang terbuka.

John C. Maxwell dalam bukunya “Developing the Leader Within You” mengatakan: “Integritas bukanlah apa yang kita lakukan melainkan lebih banyak siapa diri kita.” Ia kemudian mengatakan, “Integritas. . . tidak akan membiarkan bibir kita menghianati hati kita.”

Alkitab memberikan banyak contoh tentang orang-orang yang memiliki integritas. Salah satu diantarnya adalah Daniel. Daniel 1:8 mencatat, bahwa Daniel berketetapan hati untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja...”

Ellen G. White seorang penulis Kristen yang hidup pada tahun 1800an memuji sikap Daniel yang memiliki integritas yang tinggi. Di dalam bukunya, Education, hal 57 Ellen White menekankan pentingnya kita memiliki integritas yang tinggi seperti Daniel dengan mengatakan:

“The greatest want of the world is the want of men-men who will not be bought or sold, men who in their inmost souls are true and honest, men who do not fear to call sin by its right name, men whose conscience is as true to duty as the needle to the pole, men who will stand for the right though the heavens fall. “

Mengapa Integritas itu Penting

Pada saat ini saya akan memberikan 4 alasan penting mengapa integritas itu sangat diperlukan:

(1) Integritas membina kepercayaan. (2) Integritas punya nilai pengaruh yang tinggi (3) Intergritas

memudahkan standar tinggi (4) Integritas menghasilkan bukan hanya sekedar “citra” tetapi ia menghasilkan reputasi yang kuat.

Tahukah kita apa bedanya antara Citra dan Integritas? Citra adalah apa yang dipikirkan orang lain tentang diri kita sedangkan Integritas adalah apa diri kita yang sesungguhnya.

Di Cina Kuno orang memikirkan rasa aman dari kelompok orang Barbar dari utara, sehingga mereka membangun tembok raksasa. Tembok itu begitu tinggi, sehingga mereka yakin tidak ada seorangpun yang bisa memanjatnya, tembok itu juga sangat tebal sehingga tidak ada orang yang dapat mendobraknya. Setelah tembok itu usai, merekapun kembali santai untuk menikmati rasa amannya.

Tapi tahukah anda bahwa dalam 100 tahun pertama berdirinya tembok raksasa itu, Cina telah di serang sampai tiga kali. Mereka di serang orang Barbar bukan dengan cara mendobrak atau memanjat tembok itu, melainkan dengan cara menyuap penjaga tembok itu. Orang-orang Barbar berbondong-bondong menyerang Cina dengan cara menyuap para penjaga tembok raksasa itu. Apa yang terjadi? Orang-orang Cina Kuno begitu sibuk mengandalkan Tembok raksasanya sehingga lupa mengajarkan “integritas” kepada para anak-anak mereka.

Kata Billy Graham: “integritas adalah lem yang merekatkan cara hidup kita menjadi satu. Kita harus terus menerus berjuang agar integritas kita tetap utuh.

Dalam sebuah buku kecil terbitan Philippines Publishing House, yang berjudul Nuggets of Wisdom, ada satu statement yang penulisnya tidak diketahui sangat menarik perhatian saya, statement itu berbunyi: “When wealth is lost, nothing is lost; when health is lost, something is lost; when character (integrity) is lost, all is lost. (catatan: huruf miring tebal sengaja ditambahkan) “Ketika kekayaan hilang, tidak ada satupun yang hilang, ketika kesehatan hilang, sesuatu hilang; ketika tabiat (integritas) hilang, segala-galanya hilang.”

Saudara, Alkitab mengartikan integritas sebagai, “berkelakuan bersih”. Para ahli menyebutnya sebagai inti dari tabiat. Dunia saja mengakui pentingnya integritas. Seorang yang memiliki integritas berarti seorang yang tidak dapat diperjual belikan, seorang yang tidak memiliki loyalitas yang terbagi atau seorang yang kokoh dalam pendiriannya.

Saudara yang kekasih, masih adakah integritas dalam diri kita? Ataukah hal itu sudah nyaris menjadi komuditas punah, yang sulit untuk ditemukan. Dibutuhkan seorang anggota gereja yang memiliki integritas, dibutuhkan penatua jemaat yang memiliki integritas dan lebih dibutuhkan lagi seorang pekerja injil yang memiliki integritas. Marilah kita merenungkan nasehat Raja Solaiman “Siapa ‘memiliki integritas,’ aman jalannya.”

This entry was posted on Sabtu, 02 Agustus 2008 at 17.43 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 komentar

Poskan Komentar