Salah seorang tenaga dosen dan Puket III Bidang Kemahasiswaan di PTASN, Pematangsiantar yakni Pdt DR. R. W. Sagala yang baru saja sembuh dari penyakit yang dia derta sejak 19 Agustus 2008 yang lalu mengadakan syukuran di kediamannya sekaligus merayalan ulang tahunnya yang ke 48 tahun. Acara syukuran ini telah dirancang dari sejak jauh-jauh hari, karena Pdt. Sagala merasa bahwa hanya olehkarena kasih dan kuasa Tuhan sajalah dia dapat mengalami kesembuhan dari penyakit yang dideritanya.

Seyogianya acara syukuran ini akan diadakan tepat pada saat hari ulang tahun Pdt. Sagala yang ke 48 yang jatuh pada 21 Januari 2009, tetapi oleh karena alasan yang baik maka acara syukuran dan perayaan ultah ke 48 itu dimundurkan 1 hari menjadi tanggal 22 Januari 2009. Sejak pukul 17.00 sore beberapa undangan telah mulai datang ke rumah kediaman Pdt. R. W. Sagala, tepatnya di Perumahan No 12. Para undangan yang menghadiri acafra syukuran ini bukan hanya keluarga staf, guru dan dosen, tetapi juga keluarga pimpinan dari Gereja MAHK Daerah SKU, seperti Pdt. B. Sagala, Sekretaris Daerah dan ibu, Pdt. David Panjaitan, Direktur PA SKU dn keluarga beserata ibu-ibu lainnya, juga anggota-anggota gereja dari SLA III, Martoba dan beberapa anggota dari Jln. Simbolon

Acara syukuran ini dipandu oleh Bapak Drs. S. Manalu dan pelayanan firman disampaikan oleh gembala jemaat Pdt. Roiman Siagian. Sebelum pelayanan firman, Pdt. R. W. Sagala dan ibu D. J. Sagala di daulat untuk membawakan lagu pilihan, tanpa persiapan keduanya menyanyi berduet diiringi permainan piano oleh ibu D.J. Sagala, demikianlah lagu I Won't Have to Cross Jordan alone mengalir bagaikan arus sungai. Dalam salah satu bagian renungannya Siagian mengatakan bahwa Tuhanlah yang menyembukan penyakit dan mengampuni dosa (Mazmur 103) dan pada akhirnya dia juga mengatakan sama seperti Yesus, diharapkan bahwa semakin bertambah umur seharusnyalah kita semakin dikasihi Allah dan manusia (L:ukas 2:52)..

Setelah renungan, Pdt. R. W. Sagala memberikan keterangan dan alasan mengapa upacara syukuran ini diadakan. Menurut Sagala, alasan utama acara syukuran ini bukanlah oleh karena ulang tahunnya, sebab lanjut Sagala bahwa dirinya tidak terbiasa dengan acara ulang tahun dan tidak pernah merayakan ulang tahun. Rasa syukur atas bekat dan kebaikan Tuhan atas kesembuhannya dari penyakit itulah yang menjadi alasan mengapa acara ini diadakan.

Selanjutanya Sagala kemudian menceritakan bagaimana peristiwa munculnya penyakitnya dengan tiba-tiba. Tepatnya 18 Agustus 2008 lalu secara tiba-tiba Pdt Sagala lemah dan tidak bertenaga setelah memakan "durian" Jam 21 malam dianya muntah-muntah, kemudian dilanjutkan dengan muntah yang lainnya pada jam 01.30 hingga akhirnya dirinya dipapah ke RS Vita Insani oleh sebab secara tiba-tiba dia tidak bisa berjalan.
Delapan hari di ramat di RS Vita Insani P. Siantar, meskipun sudah 2 kali di CT Scan penyakitnya tidak ditemukan, selama 8 hari dirawat disana Sagala tidak henti-hentinya mengalami cikukan, hingga akhirnya dia dibawa ke RSA Medan. Setelah 5 hari di RSA Medan cikukan sudah mulai berhenti, tetapi berita mengejutkan itu muncul, menurut hasil MRI Pdt. Sagala memiliki Tumor di batang otak. mengetahui hal ini Sagala merasa sangat tertekan, apalagi mengetahui bahwa resikonya sangat parah bahkan bisa mengakibatkannya meninggal dunia. CD dari hasil MRI dikirimkan ke salah satu RS Swasta di Penang dan hasil MRI di Medan itu dikatakan memang ada tumor di batang otak Pendeta Sagala. Satu-satunya jalan harus dioperasi, tetapi dengan resiko yang amat berbahaya (bisa buta, lumpuh total, bernafas dengan pernafasan buatan bahkan bisa mengalami kematian.

Semangat Pdt. Sagala mulai menurun drastis setelah mengetahui hal ini, rasanya hampir mau mati saja! Tertekan! Sagala berkata, "Saya tidak akan mau dioperasi," Akhirnya Sagala memutuskan untuk mengikuti program Detox selama 21 hari, menjaga pola makan. Disamping menggunakan obat-obat dari RS, sagala beruaha juga untuk mencari berbagai macam terapi mulai dari Bio Disk, mengkonsumsi Juice Noni, memakan bawang putih tunggal setiap hari, mengkonsumsi air benalu, menggunakan obat-obat Tiens dll. Untuk lebih dari 2 bulan sejak Agustus hingga awal Nopember 2008, menurut kesaksian Sagala, dirinya seperti orang yang sudah mati dengan vonis Dokter yang mengatakan bahwa dalam batang otaknya ada tumor.

Pada awal Nopember 2008 atas izin pimpinan SLA/PTASN, sagala melanjutkan pengobatan dan pemeriksaan lanjutan di MMC Jakarta. Di Jakarta kemudian diadakan MRI yang kedua kalinya di RS Husada dan didapati bahwa tidak ada tumor otak. Prof Padmo (ahli bedah syaraf) dan Prof Yusuf Misbach (ahlli stroke) mengatakan bahwa tidak ditemukan tumor, Bapak Pdt, kata mereka hanya mengalami sedikit stroke ringan. Mengetahui bahwa saat itu tidak ada lagi tumor otak, Pdt. Sagala kembali memiliki semangat yang hidup. Dan saat ini Sagala sudah mulai pulih, sudah mengajar sejak desember lalu dan bahkan sekarang sudah aktif menjalankan tugasnya.

Setelah memberikan keterangan mengenai penyaikitnya, doa syukur bpun disampaikan oileh Pdt. B. Sagala, kemudian Ibu T. Malau (ibu Ketua PTASN) memimpin acara pemotongan kue. Lagu Happy Borthday pun kemudian dinyanyikan, kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama. Kurang lebih 100 orang ditambah dengan beberapa orang mahasiswa dan pelajar SMA.

Usai makan bersama, Bapak Sinaga dari jemat SLA III menyampaikan sepatah dua kata yang kemudian dilanjutkan oleh Bapak Drs. A. Surbakti yang mewakili staf guru dan dosen serta penghuni kampus SLA/PTASN. Selanjutnya Bapak J. Malau, Ketua PTASN memberikan beberapa contoh dimana banyak sekali manusia di dunia ini yang memiliki penyakit yang aneh yang jauh lebih gawat dari Pdt. Sagala. pada salah satu bagian ucapannya Malau berkata, bahwa saat ini Pdt. Sagala adalah bagaikan raja, dengan mengutip beberapa ayat Alkitab yang mengatakan bahwa para raja merayakan ulang tahun (misalnya seperti raja Herodes). Pada akhir pembicaraannya Malau menegaskan memang kita harus bersyukur kepada Tuhan apapun yang terjadi baik susah maupun senang baik pada saat sehat maupun sakit.

Dalam sambutan terakhir sebelum acara diakhiri, Ibu DJ Sgala menceritakan bagaimana pengalamannya saat Pdt Sagala masih sakit, sementara Pdt. R. W. Sagala menyampaikan terimakasih atas kehadiran Bapak/ibu dalam acara ini, juga berterimakasih kepada pimpinan Sekolah, serta semua yang turut aktif mempersiapkan acara ini seperti Ibu J. H. Siregar, Ibu JA Manafe, Miss Risna Limbong yang sudah membuat kue Ultah yang istimewa, kakak Elizabeth Siringoringo - Tambuan yang sudah siapn menjadi sponsor dalam acara ini dan Bapak Ramses Malau yang mempersiapkan taratap serta semua mahasiswa STFT yang ikut aktif membantu kelancaran acara ini. Acara kemudian diakhiri dengan nyanyian "Marlas Ni Roha Hita" dan doa dilayangkan oleh Pdt. R. Tambunan

Sebagian dari anggota jemaat sekitar kampus yang hadir

This entry was posted on Jumat, 23 Januari 2009 at 00.51 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 komentar

Posting Komentar